Laporan Kegiatan Museum Pusaka Nias Pasca Bencana Gempa Bumi tgl. 28 Maret 2005 s/d. Desember 2006
I. PENDAHULUANPasca bencana tsunami menimpa sebagian wilayah pulau Nias pada bulan Desember 2004 dan bencana gempa tektonik bulan Maret 2005, sebagai salah satu NGO yang berdiri sejak tahun 1991 di Nias telah memberi perhatian penuh untuk memfasilitasi masyarakat dalam mempertahankan dan mengembangkan pengetahuan, kearifan dan nilai-nilai budaya Nias yang masih ada untuk menjadikannya sebagai sumber pendidikan tentang manusia yang beradab dan memiliki identitas tersendiri.
Sebagai bukti kepedulian dan usaha nyata dalam menyelamatkan budaya material Nias berikut nilai-nilainya, Museum Pusaka Nias telah menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan baik berupa barang maupun uang tunai yang bertujuan untuk memotivasi masyarakat mempertahankan identitas Nias lewat budayanya. Usaha Museum Pusaka Nias tersebut terpusat pada manusia, Ono Niha, serta habitatnya yakni Omo Niha, Omo Hada tempat di mana terpusat adat dan budaya masyarakat Nias.
Fokus bantuan tersebut diarahkan pada restorasi rumah-rumah tradisional Nias baik di kabupaten Nias maupun di kabupaten Nias Selatan. Tujuan adalah agar pemilik rumah tradisional merasa diperhatikan, disemangati dan diberi kepercayaan kepada pemilik rumah adat untuk merehabilitasi rumahnya sendiri. Maka untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat perlu kerja sama pelbagai pihak untuk menyelamatkan rumah adat mereka sendiri. Karena rumah tradisional sangat besar pengaruhnya dalam budaya baik adat istiadat, kesenian, wisata maupun jati diri masyarakat itu sendiri.
Latar belakang dari kegiatan dimaksud adalah:
- Pada umumnya perawatan rumah-rumah tradisional cukup mahal. Maka banyak pemilik rumah membiarkan rumahnya lapuk begitu saja di bawah air hujan dan akhirnya jatuh. Dan karena kepercayaan dulu, hormat terhadap nenek moyang dan takut terhadap kutukan, rumah adat tidak boleh dibongkar pula. Kalau tidak direhab harus dibiarkan jatuh sendiri.
- Situasi ini diperparah lagi setelah bencana gempa bumi di mana rumah-rumah tradisional Nias mengalami kerusakan, ada yang rusak total, rusak berat dan rusak ringan. Apalagi GO dan NGO pada umumnya tidak menaruh perhatian pada rekonstruksi rumah-rumah tradisional, lagi pula berpendapat bahwa rumah tradisional merupakan museum yang tidak ada gunanya.
- Di Nias setiap rumah adat merupakan rumah tempat tinggal satu sampai tiga keluarga. Maka memperbaiki rumah tradisional berarti memperbaiki dan menciptakan ruang hidup bagi masyarakat Nias.
II. BANTUAN YANG DISALURKAN OLEH MUSEUM PUSAKA NIAS UNTUK REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI RUMAH ADAT
Rehabilitasi dan restorasi rumah-rumah tradisional Nias baik di kabupaten Nias dan Nias Selatan. Sumber bantuan tersebut berasal dari:

Dalam hal mencari bantuan untuk merekonstruksi rumah-rumah tradisional di Nias tersebut, sejak tahun 2005 Museum Pusaka Nias menempuh banyak jalan yakni menghubungi berbagai GO dan NGO, antara lain: ADB, World Bank, UNESCO, Kedutaan Perancis, Kedutaan Jerman, Kedutaan USA, dll. Tidak soal bagi Museum Pusaka Nias, kalau lembaga tersebut tidak mau menyalurkan bantuan mereka melalui Museum Pusaka Nias, melainkan memasang bendera secara tersendiri atau beraliansi dengan BRR atau instansi pemerintah daerah. Yang penting asal bantuan tersebut sampai pada sasarannya.
III. BANTUAN YANG DISALURKAN DAN DILAKSANAKAN LANGSUNG OLEH MUSEUM PUSAKA NIAS
1. Pemberian bantuan bagi para siswa/siswi dan mahasiswa/i dari keluarga tidak mampu di Nias yang sedang belajar di berbagai jenjang pendidikan. Bantuan tersebut berasal dari Edward Peak seorang warga negera Inggris yang pernah meneliti di pulau Nias. Dana tersebut telah disalurkan kepada 83 orang siswa. Jumlah dana bantuan sebesar Rp. 35.902.350.
2. Pembangunan baru/total dermaga pulau Simuk yang hancur akibat gempa bumi tgl. 28 Maret 2005. Pulau tersebut berpenduduk ± 3000 jiwa yang hanya hidup dari kopra. Dermaga ini berukuran: Lebar 3 meter dan panjang 56 meter. Bagian muka dermaga berbentuk huruf T dengan panjang 12 meter, dan bagian belakang berbentuk lapangan. Pelaksana pembangunan dermaga tersebut dikepalai oleh Ama Diana Gulö salah seorang tukang bangunan Museum Pusaka Nias. Bantuan pembangunan dermaga pulau Simuk diperoleh dari Lazarus-Hilfswerk, Jerman sebesar Rp. 270.000.000.
3. Dipandang sebagai aset daerah Nias, Museum Pusaka Nias juga tidak luput dari pelbagai kerusakan, yakni: artefak atau koleksi yang terpajang dalam ruangan pameran dan yang tersimpan di dalam gudang (storage) mengalami kerusakan. Selain itu pagar tembok setinggi 2 m di sekeliling kompleks Museum Pusaka Nias sepanjang 208 m roboh total, jembatan riol menuju ke laut 30 m roboh total, 1 gudang koleksi darurat rusak berat, 2 rumah dinas karyawan rusak berat dan sebanyak 12 vitrin kaca (display casing) dimana koleksi dipajang juga mengalami kerusakan total karena pecah.
Rekonstruksi fasilitas-fasilitas Museum Pusaka Nias yang rusak tersebut, didukung dan dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Nias dengan bantuan masing-masing:
- a. Tahun Anggaran 2005 sebesar Rp. 100.000.000.
- b. Tahun Anggaran 2006 sebesar Rp. 150.000.000.
- Selain Pemerintah Daerah Nias, CER dari Belanda memberi dana bantuan merekonstruksi storage Museum Pusaka Nias sebesar Rp. 177.316.000.
4. Museum Pusaka Nias telah membeli 3 (tiga) unit rumah adat yang rusak berat akibat gempa bumi dan yang tidak dibangun kembali oleh pemiliknya. Ketiga rumah adat tersebut telah didirikan kembali di kompleks Museum Pusaka Nias. Dan ke tiga rumah adat tersebut sekaligus merupakan contoh tiga tipe rumah adat Nias, yakni Bawölato, Nias Selatan dan Nias Utara.
Staf Museum Pusaka Nias juga melibatkan diri dalam revitalisasi budaya Nias. Kegiatan dan partisipasi Museum Pusaka Nias dalam membangun manusia yang berbudaya tersebut adalah:
- a. Konferensi culture is a basic need Den Haag, Negeri Belanda
Tanggal 25-26 September 2006 Wakil Direktur Museum Pusaka Nias Nata’alui Duha menghadiri konferensi Internasional tentang Budaya di Den Haag Belanda, dengan tema “Culture is a basic need; Responding to Cultural Emergencies.“ Wakil Direktur Museum Pusaka Nias merupakan salah seorang pembicara dari 3 delegasi sekaligus pembicara dari Indonesia yang menyampaikan presentasi antara 12 pembicara dari berbagai negara pada konferensi yang dihadiri oleh 300 orang dari berbagai organisasi di dunia. Symposium tersebut dibuka dengan pidato umum yang disampaikan oleh Jan Pronk (Representative Khusus Sekretaris Jenderal PBB di Sudan) dan Margaretta Wahlström. - b. Symposium Nias Architecture and Culture di Wina Austria
Tanggal 30-31 Oktober 2006 Direktur Museum Pusaka Nias Pastor Johannes M. Hämmerle, OFMCap. berada di Wina Austria dalam rangka menghadiri Symposium Nias Architecture and Culture. Symposium tersebut dilaksanakan oleh Institute for Comparative Research in Architecture, in co-operation with Institute for History of Architecture and Art, Building Research and Conservation, Department for Building Construction, Vienna University of Technology, Museum for Ethnology in Vienna (staf eksekutif museum Ibu Saptodewo) dan atas kerja sama Kedutaan Besar RI di Austria yang berkenan hadir sekaligus membuka symposium serta mengundang seluruh peserta untuk jamuan makan malam. Direktur Museum Pusaka Nias merupakan salah seorang dari 20 narasumber dengan topik Society and Culture in Nias. - c. Koferensi Pengenalan Budaya Nias di Museum Pusaka Nias, Gunung Sitoli
Tanggal 01 November 2006 dilaksanakan sebuah kegiatan pendidikan dalam bentuk ceramah bertema “Pengenalan Budaya Nias” kepada seluruh staff organisasi yang berada di bawah bendera United Nations (PBB) dan beberapa NGO yang sedang menjalankan proyek rekonstruksi dan rehabilitasi di Nias. Ceramah disampaikan oleh Wakil Direktur Museum Pusaka Nias Nata’alui Duha yang diikuti oleh tak kurang 60 orang dari berbagai organisasi. Tujuan dari ceramah ini ialah untuk memberikan pemahaman kepada para pekerja NGO dan para pengambil keputusan dalam organisasi agar tidak terburu-buru menyalahkan masyarakat Nias atau merumuskan program dengan pendekatan implementasi yang sangat tidak sesuai dengan budaya Nias sehingga masyarakat Nias agak sulit menerimanya. Masukan-masukan dalam ceramah tersebut diharapkan dapat membantu para pekerja NGO yang ada di Nias agar dapat mencari solusi yang tepat dalam penyelesaian masalah yang dihadapinya di lapangan sehingga program yang sedang dan akan dilaksanakan dapat lebih berhasil. - d. Seminar penyelamatan Situs Omo Hada sebagai warisan budaya dunia di Medan
Tanggal 10 Oktober 2006 Wakil Direktur Museum Pusaka Nias salah seorang nara sumber menyampaikan pengalaman Museum Pusaka Nias dalam upaya penyelamatan Omo Hada Nias. Seminar tersebut dilaksanakan oleh North Sumatra Heritage (NSH) Medan. Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat baik di Nias maupun masyarakat dunia untuk menyelamatkan rumah adat Nias. - e. Diskusi Panel yang diselenggarakan oleh Young Men Christian Associaton-Medan pada tanggal 19 Desember 2006. Para peserta adalah tokoh adat, kepala desa dan tokoh agama. Tujuan kegitan tersebut adalah untuk memberi pemahaman yang jelas terhadap nilai budaya Nias dan melihat pengaruhnya terhadap kemajuan ekonomi. Salah seorang Nara Sumber adalah Wakil Direktur Museum Pusaka Nias Nata’alui Duha dengan makalah “Pengaruh budaya Nias terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.”
- f. Presentasi pusaka Nias kepada NGO dan aktivis pelestarian budaya di Balai Pelestarian Pusaka Indonesia-Jakarta untuk memperkenalkan segala aspek pusaka Nias dan usaha pelestarianya pada tanggal 5 Desember 2006 oleh Wakil Direktur Museum Pusaka Nias.
- g. Presentasi pusaka Nias kepada Bank Dunia Jakarta untuk memperkenalkan segala aspek pusaka Nias dan usaha pelestarianya pada tanggal 5 Desember 2006 oleh Wakil Direktur Museum Pusaka Nias.
5. Pendidikan Bagi Anak Usia Dini
Sejak tanggal 1 Agustus 2006 sampai sekarang, Museum Pusaka Nias telah memberikan pendidikan bagi anak usia dini dengan cara memberi mereka pendidikan nilai dan budaya sambil bermain yang pada akhirnya dapat diharapkan menjadi anak-anak yang ceria dan memiliki displin, bertanggungjawab dan santun. Peserta awal sebanyak 30 anak dengan umur 3 hingga 10 tahun dan berasal dari keluarga-keluarga di sekitar kompleks Museum Pusaka Nias dengan latar belakang yang berbeda-beda. Pendidikan anak ini didampingi oleh pendidik yang telah mengikuti pelatihan pendampingan anak. Kegiatan dilakukan dua kali seminggu yaitu setiap sore hari Selasa dan Kamis.
IV. PENUTUP
Untuk mempertahankan rumah-rumah tradisional yang melulu dari kayu, tentu dibutuhkan tindakan cepat supaya kayu tidak semakin rusak dalam hujan tropis. Agak disayangkan bahwa BRR Perwakilan Nias agak lambat memperhatikan hal itu dan pada pertengahan tahun 2006 baru dapat mengizinkan rehabiltasi 50 rumah adat di kabupaten Nias dan 50 rumah adat di kabupaten Nias Selatan. Sedangkan dari semua organisasi lain belum kelihatan merehabilitasi rumah-rmah adat kendatipun sudah dua puluh bulan telah berlalu sejak gempa bumi itu.
Untuk mempertahankan situs-situs di pulau Nias, baik rumah-rumah tradisional maupun batu-batu megalit, perlu adanya usaha restorasi secara bersama-sama, perlu diadakan upaya pemeliharaan yang melibatkan berbagai unsur dan kompenen masyarakat, sehingga peninggalan tradisi masih tetap menjadi kebanggaan masyarakat di pulau Nias.
Gunungsitoli, Januari 2007
Jan
30
I. PENDAHULUAN
Pasca bencana tsunami menimpa sebagian wilayah pulau Nias pada bulan Desember 2004 dan bencana gempa tektonik bulan Maret 2005, sebagai salah satu NGO yang berdiri sejak tahun 1991 di Nias telah memberi perhatian penuh untuk memfasilitasi masyarakat dalam mempertahankan dan mengembangkan pengetahuan, kearifan dan nilai-nilai budaya Nias yang masih ada untuk menjadikannya sebagai sumber pendidikan tentang manusia yang beradab dan memiliki identitas tersendiri.
Sebagai bukti kepedulian dan usaha nyata dalam menyelamatkan budaya material Nias berikut nilai-nilainya, Museum Pusaka Nias telah menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan baik berupa barang maupun uang tunai yang bertujuan untuk memotivasi masyarakat mempertahankan identitas Nias lewat budayanya. Usaha Museum Pusaka Nias tersebut terpusat pada manusia, Ono Niha, serta habitatnya yakni Omo Niha, Omo Hada tempat di mana terpusat adat dan budaya masyarakat Nias.
Fokus bantuan tersebut diarahkan pada restorasi rumah-rumah tradisional Nias baik di kabupaten Nias maupun di kabupaten Nias Selatan. Tujuan adalah agar pemilik rumah tradisional merasa diperhatikan, disemangati dan diberi kepercayaan kepada pemilik rumah adat untuk merehabilitasi rumahnya sendiri. Maka untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat perlu kerja sama pelbagai pihak untuk menyelamatkan rumah adat mereka sendiri. Karena rumah tradisional sangat besar pengaruhnya dalam budaya baik adat istiadat, kesenian, wisata maupun jati diri masyarakat itu sendiri.
Read more…
Jan
17
Jl. Yos Sudarso No. 134-A, P.O. Box 16 , Gunungsitoli 22812
Tel. (0639) 21920, 22286, Fax. (0639) 21920
Sekretariat: sekretaris@museum-nias.org
Newsletter Website Museum: info@museum-nias.org
Website: http://www.museum-nias.org
NIAS – Sumatera Utara – Indonesia
CONTACT PERSON:
P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap
eMail: johannes.haemmerle@museum-nias.org
Hp: 081375099309
Fabius Ndruru
eMail: fabius.ndruru@museum-nias.org
Tel. (0639) 21920
Nata’alui Duha
eMail: nataalui.duha@museum-nias.org
DONATUR
Bagi Anda yang ingin menyumbang untuk Museum
dapat mengirimkan donasi melalui:
BNI 46 Cabang Gunung Sitoli
Nomor Rekening : 58190651
A/n. Martin Georg Hammerle
Oct
13
Beberapa Jenis Miniatur Rumah Tradisional Nias
Walaupun masyarakat Nias masih mengakui hanya satu suku yaitu suku Nias, dengan satu leluhur bernama ‘Hia,’ berdasarkan mitos-mitos lama, dulu diturunkan dari langit di daerah Sifalagö-Gomo (kini termasuk Kabupaten Nias Selatan), namun pada kenyataannya Nias memiliki beraneka-ragam budaya dan tradisi yang berbeda-beda di setiap wilayah, sehingga ada ungkapan populer “Bö’ö mbanua bö’ö mböwö”. (Setiap desa memiliki tradisi yang berbeda). Keanekaragaman tersebut dapat pula dilihat dari bentuk rumah tradisional yang sangat agung dan memiliki gaya arsitektur yang sempurna, sehingga tetap bertahan pada saat terjadinya gempa padahal tidak memakai bahan dari besi.Rumah tradisional (Omo Niha/Omo Hada/Omo Sebua) di Nias selalu berbeda di setiap wilayah. Omo Hada Laraga di seluruh wilayah Nias Utara berbentuk bulat lonjong atau elips (oval). Rumah-rumah di Nias Tengah memperlihatkan banyak variasi. Ada yang berbentuk persegi empat (kuadrat), ada yang memanjang ke belakang, tetapi pada umumnya lebih rustikal dengan banyak hiasan. Rumah tradisional di Nias Selatan bentuknya memanjang ke belakang bagaikan bentuk kapal. Pengerjaannya lebih halus, cermat dan sempurna. Semua rumah tradisional Nias, bahan dasarnya adalah kayu tanpa menggunakan paku besi.Rumah di Nias Selatan selalu didirikan tidak tersendiri, melainkan dalam konteks kampung ‘Banua,’ di mana rumah-rumah berjejer sangat berdekatan dalam dua baris. Rumah-rumah merupakan bagian integral kampung secara umum, sehingga bentuknya persegi empat, memanjang ke belakang.
Read more…
Aug
19
Peralatan Rumah Tangga dan Pertanian
Masyarakat tradisional Nias dalam memper-tahankan hidup, bergantung pada alam dengan bercocok tanam secara berpindah-pindah. Lahan-lahan pertanian dibuka dan dikerjakan dengan peralatan yang sangat sederhana. Setelah hasil kebun dipanen dan tanah tidak produktif lagi, mereka pindah membuka lahan baru.
Ketergantungan pada alam dan kekuatan sendiri sangat dominan dalam masyarakat tradisional Nias. Berbagai peralatan rumah tangga dan pertanian dibuat sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang sangat sederhana. Peralatan ini digunakan bukan sekedar sebagai peralatan sehari-hari, tetapi juga merupakan sarana ekspresi seni pada zaman itu. Alat-alat rumah tangga dan pertanian merupakan hasil perpaduan antara daya kreativitas dan kesenian khas yang tinggi. Ukiran-ukiran yang terdapat pada peralatan tersebut menunjukkan, bahwa para leluhur memiliki darah seni dan mencintai keindahan, karena itu mereka menciptakan sesuatu yang artistik.
Read more…